Arsip

Archive for the ‘renungan’ Category

gubrag !!

“gubrag !!” hampir tak percaya aku mendengarnya. meski masih tanpa ekspresi dan tidak menunjukkan kegelisahan didepannya, namun hati, pikiran, dan perasaan sudah terbolak-balik.
mungkin itulah mengapa insya allah sangat penting artinya. seperti yang aku baca di sebuah buku beberapa waktu lalu.

semua itu atas ijinNya.

dan, yang lebih penting adalah, bagaimana kita mengambil sikap positif dari peristiwa itu. keterbukaan hati serta pikiran. ada hikmah di baliknya. dan kedepannya hal yang lebih baik bisa kita raih.

kita diberi kesempatan untuk bersiap lebih panjang. menyelia lebih jauh. memperbanyak bekal demi perjalanan itu.

detailnya ? :)

Categories: nongkrong, renungan Tag:

ah teori !

sabtu siang aku menyelesaikan bab ke 4 buku itu. bukunya tidak terlalu tebal. sampulnya aja yang hardcover.

tentang metode belajar. umumnya sih begitu. tetapi sebenarnya yang dimaksudkan dalam buku itu tidak demikian. buku ini memaparkan bagaimana kita bisa melakukan sesuatu dengan baik setelah kita telah banyak mempelajari teorinya.

ya. ada dua kata kunci utama. teori dan praktis. hubungannya ? kesenjangan antara keduanya.

teori yang telah kita serap seringkali berhenti sebatas teori tanpa ada realisasi praktiknya. praktik semakin sulit dijangkau karena teori yang telah diterima tadi malah sudah kelupaan.

teori bisa kita peroleh dari membaca buku. mengikuti seminar, pelatihan, kursus, dan pemaparan teori lain. bisa juga dengan menyimak dosen di kelas.

oke, ambil contoh si dian. mahasiswi semester empat uad. dian kemarin tertarik mengikuti seminar “menulis itu mudah”. di salah satu fakultas sastra universitas negri di jogja. dian menghabiskan waktu seharian untuk menyimak pemaparan-pemaparan pembicara disana. para pembicaranya tidak tanggung – tanggung. beberapa redaktur surat kabar dan penulis kolom hadir disana.

besoknya, dian sudah kembali ke rutinitas hariannya. alih-alih segera menerapkan teori yang didapatkannya kemarin, untuk mengingat poin-poin yang pembicara sampaikan saja sudah kepayahan.
ya kita tidak fokus karena kebanyakan teori yang diserap dan kehilangan waktu untuk segera mempraktekkannya.

dan contoh nyata lainnya adalah perilaku sebagian (besar ?) mahasiswa. tanpa survey pun sudah jamak diketahui bahwa materi yang disampaikan dosen bahkan sudah terlupakan begitu mahasiswa keluar kelas. ya ngga begitu-begitu amat sih… tetapi juga nggak jauh jauh dari situ.
kalau pengalaman sendiri sih, kuliah jarang, bahan ngopi 15 menit sebelum ujian. ujiannya open book. persoalannya belum berakhir disitu, ternyata soalnya sama sekali tidak ada di bahan ajar. akhirnya mengarang bebas pun dimulai. satu semester itu? 3 sks, per sks nya 75 rebu. apa yang kita peroleh? (mending dibeliin taro rasa lumut laut aja, kenyang)

mengapa demikian? dan siapa yang salah?

Categories: nongkrong, renungan Tag:, , ,

Isra Mi’raj yang terlewat

1 Agustus 2008 bocahcilik 1 comment

isra mi’raj. ya kita sudah tau itu. semua orang islam di indonesia juga tau. hari rabu kemarin. karena bertepatan dengan 27 rajab, maka tanggal itu dijadikan hari libur nasional. untuk menghargai umat islam dalam merayakan peringatan untuknya.

isra mi’raj sangat penting kedudukannya dalam agama islam. karena dalam peristiwa inilah, perintah kewajiban salat lima waktu dalam sehari itu dikeluarkan. memang sebelumnya ga pada salat apa? (tau tuh, tanya aja ustad). mmm, untuk cerita lengkapnya bolehlah membaca sebentar ulasan dari m. syamsi ali disini.

saya belum belajar banyak mengenai apa sebenarnya hikmah salat yang sebenarnya bagi manusia. sampai-sampai nabi yang diangkat ke langit cuma diperintahin untuk membawa kewajiban salat untuk umatnya. coba bayangin, orang astronot naik ke luar atmosper bumi, suruh bolak-balik untuk membawa perintah salat. apa ga rugi tuh. Read more…

anarki apa anarkhi

25 Juli 2008 bocahcilik 3 komentar

lanjutan dari yang anarkisme kemarin.

anarkisme ataukah anarkhisme. perilaku anarkhi ataukah paham anarkhi. saya ngga begitu mempermasalahkannya. yang saya tangkap dengan jelas adalah bahwa itu sangat berhubungan dengan kekerasan. penghancuran hak orang lain. memaksakan kehendak. bertindak di luar kewajaran. perilaku yang membabi buta –melebihi norma-norma kemanusiaan. dan kadangkala tidak manusiawi (hewani ?) kumpulan dari semua hal tersebut akhirnya menjadi layak untuk disebut sebagai isme baru. ya, anarkisme. (anarkhisme kalee ?)

taruhlah korupsi. seperti slogan salah satu pabrikan motor terkenal, indonesia juga telah mempunyai manifesto baru. mengalahkan bhineka tunggal ika. (mungkin karena sekarang bhinneka sudah menjadi dotcom) apa itu ? korupsi tiada henti. terungkap satu tumbuh seribu. patah tumbuh hilang berganti. di jagat raya birokrasi. di sela-sela baju hukum dan polisi. tidak kalah pula para politisi.

kemudian, apa hubungannya korupsi dengan kekerasan. (kan jauh tuh ?) jauh gundulmu. ya dekat lah, (masa’ ya dekat dong). silahkan meng-asosiasi-kan sendiri. males bicara fakta. suatu ketika malah saya pernah punya pikiran, kalau begitu apa bedanya perilaku korupsi dengan perilaku nazi. dua-duanya sama-sama merampas harta rakyat. yang kalau dipikir apa mereka perlu semua itu. mereka juga sama-sama berkampanye di depan masyarakat. gembar gembor. mereka juga gila kekuasaan dengan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. (jadinya ngga ada lagi halal haram, yang ada cuma halam)

tangan mereka terbuat dari besi. hati mereka sekeras batu gunung. tiada air mata meleleh melihat kesengsaraan. tiada hati tersayat tatkala hutan menjadi padang pasir. apakah memang sudah obsesi mereka, akan menjadikan tanah ini seperti gurun di afrika. yang bisa dipakai untuk setting film ayat-ayat cinta. jahhhh… gombal.

Anarkisme

21 Juli 2008 bocahcilik 2 komentar

Sudah tidak perlu lagi bertanya ke lembaga survei manapun, jika hanya untuk mengetahui tingkat kekerasan yang dilakukan masyarakat Indonesia beberapa waktu terakhir. Hari demi hari, silih berganti peristiwa kekerasan dipertontonkan oleh masyarakat kita. Setiap jam, setiap menit tidak lepas telinga kita mendengar, mata kita melihat, dan mulut-mulut yang tak henti-hentinya mengumbar setiap even kekerasan yang terjadi. Kamera tivi wartawan menjadi pengungkap semua itu. Dan mau tidak mau harus diakui bersama bahwa memang kita sedang sakit. Gila news heboh. Gila berita aneh. Gila segala-galanya.

Saya cukup mafhum dengan kejadian-kejadian yang sering terjadi menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia. Dimana memang peran pemerintah yang seharusnya bisa optimal memanage kepentingan bersama tidak berjalan dengan baik. Hal ini dapat dengan mudah dilihat dengan kebanyakan kinerja pegawai-pegawai pemetintahan yang seenaknya sendiri.

Sementara masyarakat dibiarkan mencari solusi sendiri atas segala permasalahannya. Bukan saja dalam bidang ekonomi — yang menyangkut hajat hidup primer, sandang, pangan, papan. Tetapi merambah ke hal-hal yang lain, seperti: keamanan, transportasi, pendidikan, dan bahkan beragama. Pemerintah yang seharusnya bisa menjamin kenyamanan masyarakat tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

Persoalan yang dihadapi masyarakat Indonesia memang dimulai dari satu dasawarsa yang lalu. Meski dahulu di jaman Pak Harto juga seringkali mengancam keamanan beberapa kelompok tertentu, namun imbasnya tidak bersifat nasional. Dan hampir bisa ditutup-tutupi. Sementara, prestasi ekonomi terkenal kemajuannya. Sebelum krisis jatuhnya rupiah terjadi.

Seiring maju-berkembangnya demokrasi di Indonesia, ternyata tidak secara otomatis berjalan linear dengan kemakmuran, kenyamanan, dan perbaikan status ekonomi dan pembangunan masyarakat. Demokrasi yang sukses dijalankan itu hanya berputar-putar di kalangan politikus-politikus. Dan masyarakat malah semakin tertekan dengan himpitan-himpitan baru. Entah imbas ekonomi global (seperti 1997 itu), ataupun imbas kebijakan-kebijakan pemerintah hasil demokrasi itu. Yang dulu digadang-gadang menjadi solusi memecahkan permasalahan bermasyarakat bernegara.

Sudah jamak diketahui bahwa ternyata pemerintah hasil demokrasi tersebut malah bekerjasama dengan internasional untuk memanfaatkan bersama potensi Indonesia yang luar biasa. Dan, harus diakui Indonesia memang luar biasa, sehingga harus bisa dimanfaatkan bersama-sama. Hasil akhirnya, semakin tambah hari semakin tertekanlah masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan primer. Ketidaknyamanan dalam menjalani kehidupan. Ketidakmudahan mencari pekerjaan.

Reaksi-reaksi atas aksi-aksi beruntun lambat laun menjadi sebuah gunung permasalahan baru. Tekanan-tekanan tidak berkesudahan, dan selalu gagal dicari jalan solusinya. Gunung itu adalah gunung permasalahan mereka. Tumpukan itu mempengaruhi cara berfikirnya. Cara mereka menangani setiap timbul masalah yang baru.

Tidak berfikir panjang, kurang mempertimbangkan faktor-faktor ikutan, berfikir satu langkah, instan, tidak ada rencana matang, sporadis, kurang mempunyai jati diri, kurang percaya diri, saling menyalahkan, ngapusi, mengorbankan nilai moral, berjuang untuk hasil nominal tanpa memperdulikan proses, menilai sesuatu selalu dengan nominal, menafikan spiritual, lebih condong ke materi, putusnya urat malu, yang kasat mata, yang bisa diukur.

Hasil tindakan dari pola diatas bisa dilihat di news televisi setiap hari. Contohnya: bunuh diri, pengeroyokan maling, copet-rampok-curi dan segala tindakan kriminal lain, korupsi tiada henti, suap menyuap, tidak malu berbohong di depan umum, pembakaran massa, kerusuhan di pertandingan sepak bola, kerusuhan massa waktu berdemo, demo selalu bertujuan untuk saling pukul-memukul dan lempar melempar, pembobolan atm, nyontek waktu umptn, dll.

(wedew kok jadi panjang ya… bersambung aja )

Categories: renungan Tag:,