Kuliah Tidak Murah
Baru setahun lalu saya lulus kuliah. S1 saya. Di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Selama itu, saya selalu merasakan mahalnya biaya kuliah. Yang juga selalu membuat “biaya’an” bila datang waktu ujian. Tersebutlah uang SPP, dana pengembangan, sumbangan A, sumbangan B, dan biaya per sks mata kuliah. Dan ketika digabung… dueng muncullah angka dua koma sekian juta. Atau kadang-kadang tiga lebih sedikit.
Waktu itu memang saya merasa sudah pol mahalnya. Ga kesampaian mau beli kebutuhan tersier yang diinginkan. Bahkan untuk urusan makan. Namanya juga mahasiswa. Di Jogja lagi. Temen-temen saya banyak menyebutnya ‘ ga bisa milih menu makan ‘. Dan itungannya ga boleh makan tiga kali. Karena budgetnya hanya cukup makan 2 kali sehari. Mungkin bisa diakali menjadi 3 kali sehari, dengan model subsidi silang. Kalau Senin dan Kamisnya puasa, maka hari lainnya bisa makan 3 kali dan aga’ bisa milih menu. Ya itu tadi, pake nambah acara puasa. Niatnya bisa dobel. Nambah pahala, mencegah maksiat, dan yang ga kalah pentingnya: ngirit. Read more…
Pagi ini aku iseng-iseng mampir ke blognya