ke Paris

Habis ujian [butexnya fisika 1, masa’ hari gini ngambil fisika lagi…, java apalagi, numerik ihhhhhhhhh], mendingan ke pantai aja. Ngebayangin deburan ombak mendayu-dayu… [halah halah!!!!!!!!!!!!]

Akhirnya kesampaian juga, Sabtu pagi.. ke Paris, 20 KM dari Jogja.  Mudah aja sih sebenernya lurus aja dari Pojok Beteng ke selatan menyusuri Jalan Parang Tritis. Sampailah ke pantai. [ya jelas lah wong namanya juga sudah jalan parang tritis, kalau sampainya ke Bantul ya jalan Bantul!]

Sebelum sampai lokasi, ada gapura masuknya. Sebenernya masuk sini mesti bayar karcis dulu, tapi karena pagi ini aku bernasib mujur dan keragu-raguan petugas ga bisa mbedai’in aku orang asli sana atau bukan, aku akhirnya langsung aja nglewatin tuh gapura. Mahasiswa lah pak… sing fenting gratis.

Masih beberapa meter, angin khas pantai dah berhembus kenceng. Masuk lokasi, taruh brompit di parkiran. Dikasih karcis parkir…. tapi gubrak!! tarifnya bo’: MOTOR = 3000. MOBIL = 10.000.
Gila nih orang bikin harga. Tapi, mo gimana lagi. Tapi diitung-itung hanya duit itu yang aku keluarin sejak dari Jogja. Yah bagaimanapun juga “JER BASUKI MOWO PANAS” lahhh….

Duduk duduk di pasir… wuuu lembut oi…panas ga terasa, anginnya mantap.. ombaknya ga gede-gede amat. Kebayang wah kalo lagi enak-enak gini trus ujug-ujug tsunami gimana ya?
Sempat ngobrol juga dengan penjual kacamata yang asli daerah situ. Yah  dapet pelajaran hidup dikit setelah dikorek-korek agak lama.

“Mas, mas kan masih panjang jalan hidupnya… hidup ini kan seperti ombak. (Tangannya sambil nunjuk ke arah laut) Ada pasang ada surut. Semuanya harus disyukuri. Ada senang jangan berlebihan. Ada susah, jangan berlebihan. Asal semuanya tidak melampaui batas, semuanya akan terasa enak… .”

Ya tentunya dengan logat Jogja pesisir gini.

Di kejauhan, ada simbah-simbah yang ternyata pengemis [duuh susah kalo ginian…tipsnya gampang : wah mbah, mboten sakniki njeh?!!!], ada juga kereta kuda yang naiknya sekali puteran 10.000, barak bambu jualan kelapa muda. Trus layang-layang juga ada. Tapi semuanya ngga ada yang kucoba.

“Tapi sehabis gempa itu mas, seramai-ramainya sekarang ngga ada seperlimanya yang dulu… .” 

3 pemikiran pada “ke Paris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s