Ria

Entah apa yang ada di benaknya pagi itu. Ketika jarum jam masih menunjukkan pukul tiga pagi, dia bangun seraya membangunkan bapaknya. Dan bertanya, yah ria cantik nggak, yah ?

Namun, perilaku yang tidak biasanya itulah yang menjadi “pertanda” bagi kedua orang tua Ria. Paginya Ria demam. Sempat diperiksakan di Puskesmas dekat rumahnya. Kata dokter, ini campak kok, segera diminum obatnya saja. Siang, karena tak kunjung turun suhu tubuhnya, Ria dibawa ke rumah sakit. Sempat mengalami sesak. Sekitar jam tiga sore, ria menghembuskan nafas terakhirnya bersamaan dengan kata terakhirnya, “Ayaa..hh.”

Ria, dia salah satu murid taman kanak-kanak di samping rumahku. Sering ketika dia di depan rumahku, ketika saya sedang mengeluarkan kendaraan, dia pasti melihatku dengan diamnya yang khas. Pipinya tembem. Lucu dan imut. Semoga Ria menjadi berkah bagi kedua orang tuanya.

Tidak perlu ada tangis kesedihan untuk Ria… 🙂
Ria mengingatkanku tentang dua kata, hidup dan mati.

Satu pemikiran pada “Ria

  1. Hari senin kemarin (19 / 11), berita tentang ria masuk koran Jawapos. menjadi sebuah sorotan untuk departemen kesehatan ngawi tentang penanganan kebersihan lingkungan dan DBD.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s