Kuliah Tidak Murah

Baru setahun lalu saya lulus kuliah. S1 saya. Di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Selama itu, saya selalu merasakan mahalnya biaya kuliah. Yang juga selalu membuat “biaya’an” bila datang waktu ujian. Tersebutlah uang SPP, dana pengembangan, sumbangan A, sumbangan B, dan biaya per sks mata kuliah. Dan ketika digabung… dueng muncullah angka dua koma sekian juta. Atau kadang-kadang tiga lebih sedikit.

Waktu itu memang saya merasa sudah pol mahalnya. Ga kesampaian mau beli kebutuhan tersier yang diinginkan. Bahkan untuk urusan makan. Namanya juga mahasiswa. Di Jogja lagi. Temen-temen saya banyak menyebutnya ‘ ga bisa milih menu makan ‘. Dan itungannya ga boleh makan tiga kali. Karena budgetnya hanya cukup makan 2 kali sehari. Mungkin bisa diakali menjadi 3 kali sehari, dengan model subsidi silang. Kalau Senin dan Kamisnya puasa, maka hari lainnya bisa makan 3 kali dan aga’ bisa milih menu. Ya itu tadi, pake nambah acara puasa. Niatnya bisa dobel. Nambah pahala, mencegah maksiat, dan yang ga kalah pentingnya: ngirit.

Mungkin kalau kuliahnya di Solo mah masih mending. Makan masih murah. Minum juga pastinya. Baru bulan lalu saya diajak makan teman di salah satu warung makan disana. Mie ayam Bandung dua, sama teh hangat manis. Habisnya berapa ? 7000. Muke gile nih, yang bener aja mbak. Salah ngitung kali?… Bener kok mas. (Wow..) Padahal tempat warung ini bukan di kaki lima. Dan lebih mendekati lokasi perekonomian, alias bukan wilayah kampus.
Sekarang satu tahun berlalu. Sudah bukan mahasiswa lagi. Setidaknya mahasiswa S1. Entah nanti jadi mahasiswa lagi. S2 mungkin. Atau kalau beruntung bisa S3. Paradigma saya tentang hidup di Jogja harus dengan pengorbanan sudah mulai beralih. Lumayanlah, dah dapet pemasukan sendiri. Meski kadang juga masih dapet jatah dari orang tua. πŸ˜€

Tetapi, beberapa hari ini saya masih aga’ tercenung melihat pengumuman penerimaan mahasiswa baru di beberapa perguruan tinggi di Jogja. Dan kebetulan jika mereka habis ujian penerimaan, maka biasanya pengumumannya bisa dilihat di koran KR. Kedaulatan Rakjat. Korannya warga Jogja. Eh ngiklan. Satu bulan ini, UAD ada, UNY ada, UAJY ada, UTY ada, UGM ada. Selain berisi pengumuman nama yang diterima, juga ada SK rektor atau pejabat terkait yang biasanya berisi kapan daftar ulang dan berapa dana yang harus disiapkan. Di bawah ini terlihat dana yang mesti dibayar di semester pertama (UNY) :

uny_mahal_tahun_2008

Yang diatas itungannya masih UNY. Belum kalau UGM. Atau mungkin UII. Hee.. ngacir aja deh. Di kampus UAD yang tercinta biaya kuliah memang ngga jauh beda dengan diatas. Namun menurut hemat saya masih aga’ mendingan. Mengingat UAD adalah perguruan tinggi swasta. Dan model pembayaran uang pembangunan (atau apalah istilah lainnya) bisa dicicil dibayar sebagian-sebagian untuk beberapa semester. Tetapi, ya tetep aja mencicil kan?!!

Teringat waktu dulu, UMPTN lulus di UNY. Melihat pengumumannya harus bayar 1.5 juta lagi. Jadi males masuk. Tapi 1.5 waktu itu memang sudah terasa mahal. Tetapi kalau sekarang kok super duper mahal lagi ?

Promosi yang Mulai Na’if

Mungkin karena melihat kenyataan diatas, ada beberapa kampus malah mengiklankan diri dengan mengasih materi, kenapa harus kuliah, dengan segala alasan-alasan yang ada. Salah satunya UTY. Ya memang sih harus begitu saat ini … lha mau gimana lagi.

Pilihannya: Kuliah atau Langsung Kerja

Mmm… mana ya?

16 pemikiran pada “Kuliah Tidak Murah

  1. hahaha kata siapa kuliah murah,,, klo murah mah udah borong deh titelnya… pilih dua2nya aja kuliah sambil kerja… tapi ntar gag fokus lage…

  2. Huhuhu >.< pemerintah kita selama ini kemana sih?
    buat biaya pendidikan kok ga ada subsidi…(hehehe,maunya subsidi terus ya πŸ˜› )

    Saya anak kls 3 SMA,…ngeliat biaya kuliah saya jadi bingung… -___-“

  3. cip bos sezu sekali…!
    pi di garut kuliah pada murah loks,kalu dibandingin ma di jgjamah,emang cih swasta….! pokoke kitaran 1,8 gitu /smester…

  4. wew… mahal ya… kalo di Kalimantan skarang harga 1 X ma’em paling sdkit 6000 mostly.
    Guru2 saya di sekolah bilang kalau di daerah Jawa (Jogja, Malang, dkk) lebih murah biaya hidupnya, dan pendidikannya lebih berkualitas serta mudah mencari materi kuliah, tersebar di banyak loakan.
    Jadi deh guru2 saya pada nyaranin agar murid2nya pada kul di Jawa krn hal2 tsb.
    Saya siswa kelas akhir di Sma, dan bingung mau kul di daerah aja atau di luar daerah. Terkendala biaya dan skill.

  5. Tenang aja masih ada kampus murah tapi berkualitas tinggi..namanya UNINDRA ( Universitas Indra Pasta PGRI )Liat aka biayanya di Web nya..trus untuk akreditasi bisa diperiksa status akreditasinya di web BAN PT,,Pokoknya Sip deh…

  6. waduh kalo gitu tempat gwa termasuk mahal ya?satu tahun kalo gwa hitung rata rata habis 29 jutaan lebih…(sama biaya hidup sih)…segitu masuk dalam kategori mahal ato murah ya?….pindah keJogja ah….

  7. sapa bilang makan di jogja mahal…..lo makan berdua bs cuma abis 5000 doang?lo tu belum jelajahin jogja udah sok tau. n sapa yang bilang kuliah murah…..emang kampusnya kakek buyut loe……..jadi bisa gratis oon,,q aja bayar uang sumbangan 450juta

  8. I am extremely impressed together with your writing skills and
    also with the layout for your weblog. Is this a paid theme or did you customize it
    yourself? Anyway keep up the nice quality writing, it is rare to look a great blog like this one these
    days.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s