Soto Ayam Batas Kota

Dinginnya pagi kota Jogja memang ndak bisa dilawan. Gairah untuk segera beraktivitas pun terkalahkan. Sementara matahari sudah mulai berkuasa. Memaksa masuk lewat celah-celah jendela.

Morning routine
Morning routine

Tetapi tidak untuk pagi ini. Segera kuraih jaketku. Dan jeng jeng jengKupacu sepeda motor tuaku. Alon-alon sing penting mlaku. Ra usah ngece ra usah ngguyu. Yo wis ben wae iki karepku.

Yuhuuu! Soto Ayam Batas Kota. Entah bagaimana yang lain menyebutnya. Aku lebih senang dengan sebutan itu. Soto Ayam Batas Kota.

Lokasinya memang di batas kota. Batas kota Jogja dengan Sleman. Jogja berhati nyam-nyam dan Sleman sembodo-yen di-eman marai gelo. Kalau sudah paham dengan Jogja pastilah tau yang namanya Gedung Mandala Bhakti Wanitatama (GMBW) dan Hotel Shapir. Keduanya di sebelah barat Ambarukmo Plaza yang terkenal itu. GMBW yang sering dijadikan tempat mesum pameran, eksibisi, mantenan, dan lain-lain. Nah, diantara dua tempat itu ada gang ke arah selatan. Masuk barang 100 meter, bertempatlah warung soto ayam batas kota. Ndipis, mepet tembok. Kanan jalan.

Dilihat dari yang sering mampir disitu, sudah jelas bahwa ini bukan warung yang ecek-ecek. Apa pasal? Ngga pernah selo. Mulai dari kelas mahasiswa, mahasiswi, dosen, karyawan, karyawati, guru SD, rakyat kecil, sampai kelas rakyat besar, ndoro bei, dan manajer. Ndoro kakung? hehe, sori bos, ndak masuk database. Sebenernya ngga begitu-begitu banget sih, ya… memang pelanggannya banyak dan dari berbagai lapisan masyarakat. Ada orang biasa dan orang luar biasa. Gitu aja.

Dasar warungnya kecil. Meski ngga sekecil lubang semut sih, tetapi… ya memang ndak mbejaji. Jadi dengan ramenya itu, terlihat selalu penuh selama jam buka. Kalau pas tutup ya sepi.

Soal harga ? mmm… memang sedikit tidak bersahabat untuk mahasiswa. Sedikit tidak bersahabat? ya, sedikit. Tapi ngga jauh-jauh banget kok. Kalo makannya sotonya doang ya terjangkau. Minumnya bawa sendiri dari rumah.😛

Wujud sotonya? biasa. Tetapi kuahnya yang ngga pernah bohong. Mesthi enak. Ya meski,… pagi ini agak asin ‘dikit. Untung ngga tak kasih kecap. Bisa merusak citarasa dan selera mungkin. Tambah enak meneh, kalo pesen sama hati. Hati ayam. Empuk, hangat, lembut …mmm maknyus bos.

Dan ada satu lagi penggugah rasa yang nggak kalah penting. Perut yang sangat lapar. Dan dahaga yang tak tertahankan. Puasa 10 tahun dulu??? ya ngga lah… Renang dulu 1 jam di kolam renang UNY sudah cukup. Pass tenan dab!!!

Jadi resepnya gini:

  1. Pagi yang dingin, sedingin kereta argo lawu
  2. Jangan makan dulu, renang 1 jam, jangan diminum air kolamnya
  3. Dan yang terakhir baru… Soto ayam batas kota, poko’e maknyus. Lak njeh ngoten to pak bondan?

Sugeng dahar eco.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s