Tukang …

Dalam kaidah bahasa jawa, untuk menyebut seseorang yang ahli dalam mengerjakan sesuatu hal, maka cukup menambahkan kata tukang sebelum kata kerja atau kata benda itu. Sebagai contoh, untuk menyebut orang yang ahli ketik dan mengetik, maka disebut tukang ketik. Orang yang ahli bangunan maka bisa disebut tukang bangunan. Dan lebih umum dipanggil tukang batu. Banyak contoh lainnya seperti: tukang jamu, tukang komputer, tukang poto, tukang gambar, tukang potokopi, dan beribu sebutan tukang yang lain.

Tukang kritik

Meski saya menyebut ini adalah kaidah jawa, tetapi sekarang pun wajar digunakan dalam bahasa Indonesia. Mau nggak mau sih begitu, la wong Indonesia itu banyak menyomot dari jawa je. Hampir dalam segala hal.

Dengan adanya kaidah ini, kita bisa dengan mudah dan benar menyebut profesi seseorang. Karena, sebutan tukang adalah sebutan sebuah profesi. Bisa untuk profesi formal atau yang bener-bener. Bisa juga untuk ke arah konotasi.

Namun begitu, memang dikenal juga nama paten untuk menyebut profesi umum seseorang. Misalnya : tukang nerbangin pesawat namanya pilot, tukang ngemudikan kendaraan disebut sopir, tukang suntik = dokter, tukang sunat = ?? Tetapi juga tidak bisa disalahkan jika kita tetap menggunakan kata tukang tersebut.

Ini seperti di bahasa Inggris. Ahli poto memoto jadinya potograper. Ahli Draw = drawer.

Yang dibahas diatas tadi berarti masuk ke profesi formal. Salain itu, tukang juga bisa untuk menyebut orang yang sering melakukan sesuatu. Ini sebutan agak memaksa tetapi tetap dibenarkan. Seperti: tukang ayam, tukang bakso, tukang ngapusi, tukang makan, tukang tidur, tukang molor, tukang nyontek, tukang korupsi, tukang zina, tukang nyolong, dst, dst.
Kalau konteks sebut-sebutan yang ini berarti bisa juga digantikan dengan ratu atau raja (dalam beberapa hal). Misal: Oma Irama, raja dangdut. Zarima, ratu ekstasi. Artalyta, ratu suap. Inul, ratu ngebor. Ratu dan raja artinya nggak jauh beda dengan tukang tadi.

Untuk yang lebih hiperbolik lagi bisa dipakaikan kata dewa. Sebut saja karakter jacki chan yang terbaru kembali menjadi dewa mabuk. Ngga jauh dari rumah saya, malah nyebut dirinya dewa sunat. Tanyaken sama orang bali, punya ngga dewa sunat ??
Tetapi kalau disini ada pengecualian buat dewa 19. Dewa 19 tidak berarti apa-apa (untuk konteks ini).

Tukang adalah seseorang itu

Misal ketika kita di jalan. Ditanyai seseorang yang mencari rumah Pak Budi dan Pak Budinya sendiri. Maka kemungkinan kita akan mengkonfirmasi identitas Pak Budi. Dan kemungkinan besar pula kita mengkonfirmasi dengan mencocokkan profesi pak Budi. Berarti berhubungan dengan tukang lagi. Anggaplah percakapannya kayak gini:

“Mmmm.. numpang tanya, mas… rumah pak budi mana ya?”

“Pak budi…oohhh.. yang tukang korupsi???”

“Eee… bukan, bukan, yang tukang zina kok ini mas…”

“Ohhh yang itu. yang ceweknya –dalam tanda kutip– pake baju putih????”

“Betul mas. Rumahnya deket sini kan?”

“Iya deket sini, jalan aja terus, nanti ada rumah bercat merah, berpagar beton, catnya merah juga. Ada pohon semangka di depannya. Nah itu rumah Pak Bejo. Rumahnya Pak Budi masih sekilo lagi dari rumahnya pak Bejo. Ntar nanya aja lagi…”

“Oooo gitu ya mas ya.. kok mas tau pak budi? mas nganu juga ya?”

“Husss… dasar tukang nanya !”

Dari sini aja kita sudah dapet dua tukang. Tukang nanya. Sama tukang njawap. Jadi percaya nggak percaya kita ini adalah tukang semua. Terserah mau kata apa yang mau disematin di belakangnya tukang.

Saya ada karena saya melakukan sesuatu

Saya ada karena saya berpikir. Itu kata mereka. Jadi –ini renunganku semalam– dalam hidup ini, seorang karakter manusia tidak bisa dipisahkan dari idiom tukang ini. Kalau misalkan, seseorang itu tidak melakukan sesuatu apapun, apakah kita bisa mendefinisikan siapakah orang itu. Siapakah dia ? Dia bukan siapa-siapa, dalam hidupnya dia tidak melakukan apa-apa. Dia bukan apa-apa. Lalu mengapa dia hidup ? Dia hidup tidak untuk apa-apa. Kita juga tidak dibenarkan menyebutnya “tukang yang tidak melakukan apa-apa”.

Hidup adalah perbuatan

Halah… itu kan kampanye yang bermodal tiga ratus milyar itu. Tetapi memang bener juga sih. Tanpa perbuatan besar, kita menjadi bukan apa-apa. Artinya ya tadi kita bukan siapa-siapa. Kita tidak dikenal sebagai tukang sesuatu apapun.

So, coba sematkan kata tukang apa yang cocok untuk diri kita. Tukang sate? tukang cukur? tukang ayam, tukang fitnah, tukang kompor, tukang payung, tukang kibul, tukang roti, tukang pulsa, tukang internet,,, asal jangan salah jadi kutang aja ya.😀

Kalo saya bolehlah disebut tukang tidur, tukang nonton tipi, tukang pijet, tukang makan. Lha kalo anda tukang apa??

Kalau bingung bisa minta tolong ke google disini.

Satu pemikiran pada “Tukang …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s