Menjadi kepingan kecil pemerata


Banyak yang membicarakan mengenai gini ratio, ketimpangan, kesenjangan, beberapa waktu terakhir. Terutama saya melalui blog ini.

Saya akui terlalu banyak pikiran merana memenuhi kepala. Arep sambat yo karo sopo?

Kita khalayak kebanyakan, terutama yang sempat membaca tulisan ini, yang sempat-sempatnya ngeblog di office hour, tentu tak terlalu merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang paling merasakan bagaimana sulitnya mencari duit.

Intinya, kelas menengah ngga terlalu kena dengan segala macam kesulitan hidup dibanding mereka yang bergaji UMR atau di bawahnya. Yang ketika tanggal 15, seperti hari ini, dompet sudah sepi, hanya sisa seribuan pas untuk kerokan.

Segala macam posting, komentar di fb, t, ig, seakan tak cukup untuk menuntut pemerintah untuk segera memerintahkan jajarannya mengatasi dengan segera. Meski malaikat juga tahu, bagaimana birokrasi negeri tercinta kita ini bekerja.

Tapi sebenarnya, kita pun bisa menjadi salah satu – sebagian kecil pemerata.

Cobalah renungkan…

Beli barang kebutuhan di pasar tradisional atau di supermarket?

Beli sayur di mbah Rono atau di Super****?

Beli supermi di ****maret atau di bu Joko?

Apakah anda sempat membeli sapu/ciduk yang lewat depan rumah?

Siomay mas-e yang lewat depan rumah atau pesen Go f**d?

Perabotan merek luar atau dalam negeri?

Branded atau home-hand product?

Beli baju di mall atau beli bahan batik Imogiri dan menjahitkannya di tailor timur perempatan?

Made in Kulonprogo atau made in papua new gini?

Korean style atau lokal style?

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s